Rabu, 18 Mei 2016

Rinjani Tak Pernah Ingkar Janji

Ingin merasakan sensasi empat gunung dijadikan satu? Mendakilah Gunung Rinjani. Salah satu destinasi surganya para pendaki yang terlatak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Rinjani memiliki ketinggian 3.726 mdpl.

Rinjani menjadi tujuan pendakian terfavorit karena pemandangannya yang luar biasa. Hutan (seperti di Gunung Slamet), kaldera, padang savana (Seperti di Gunung Merbabu), tebing (seperti di Gunung Sumbing), dan lintasan berpasir (Seperti di Mahameru) yang cukup memacu adrenalin para pendaki.

Dalam perjalanan kali ini, saya mengambil tema "terima beres". Mengingat saya bukanlah pendaki handal karena baru beberapa kali saja melakukan pendakian. Perjalanan menuju Lombok pun saya tempuh melalui perjalanan udara. Beruntung saya mendapatkan tiket cukup murah dengan kualitas maskapai kelas internasional. Setelahnya, mulai mencari biro yang sekiranya cukup profesional dengan harga miring.

Perasaan semangat menggebu dan diluar dugaan saya bisa menapaki kaki saya di Gunung Rinjani. Mengingat mendaki Gunung Rinjani masih sebatas angan karena tak yakin apakah saya sanggup?

Menuju Rinjani

Untuk menuju Lombok, transportasi paling mudah adalah dengan menggunakan pesawat. Dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam, pekerja yang memiliki waktu sangat terbatas untuk liburan seperti saya akan sangat efisien menggunakan moda trasportasi pesawat.



Sampai di Bandara Internasional Lombok, saya disambut dengan Ramli, dia merupakan orang biro yang sudah saya bayar untuk menyiapkan seluruh akomodasi yang saya butuhkan selama liburan. Menuju homestay di kawasan Senggigi untuk bermalam sebelum menuju tempat pendakian dan memulai pendakian.

Keesokan harinya (2/5/16), jam 05.00 WITA saya bergegas menuju Senaru dengan menggunakan travel. Sekiar pukul 08.00 WITA saya tiba di pos awal pendakian.

Memulai pendakian sekitar pukul 09.00 WITA, saya disuguhi dengan perkebunan cokelat dan vegetasi hutan yang masih cukup rapat. Teduh, adalah kata yang saya ucap ketika memulai perjalanan. Masih banyak pepohonan yang tumbuh liar dan nyamuk yang cukup menggangu perjalanan karena cukup gatal ketika nyamuk berhasil menggigit badan. Dan kabut yang sesekali menyelimuti udara kala itu.

Sejenak istirahat untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 15.00 saya tiba di Pos 3 pendakian. Pos dimana titik awal saya mendapatkan suguhan ilalang tinggi dan padang savana yang sangat luas. Senang betul perasaan saya kala itu.


Pemandangan ini mengingatkan saya pada Merbabu yang memiliki savana yang tak kalah indahnya. Bernostalgia dengan pengalaman terdahulu saat mendaki beberapa tahun silam.

Angin bertiup berhasil menghapus lelah dan penat saat perjalanan. Hamparan savana tampak terlihat di sekililing pandangan. Matahari tak lagi terik dan menusuk. Tetapi, ternyata lembah savana ini terlalu luas untuk saya. Mengapa? Karena saya mulai merasa lelah dengan jalan menanjak yang tak kunjung usai. Lembah demi lembah saya lewati, tetapi tak juga sampai pada titik istirahat dimana tenda sudah didirikan.

Pelawangan Senaru

Mempercepat langkah dan mengabaikan lelah agar tak bertemu gelap sebelum tiba pada tenda tempat bermalam. Mata saya tak cukup awas kala gelap. Dan saya terlalu penakut untuk berjalan dalam gelap. Tepat pukul 18.00 WITA akhirnya saya tiba di Pelawangan Senaru, tempat tenda yang telah dipasang oleh porter.



Meluruskan kaki, menyeruput teh hangat sambil memandangi senja sebelum jam makan malam tiba. Saya sempat berbicang sedikit dengan teman yang saya kenal di pendakian kali ini. Empat dari Indonesia dan lima dari mancanegara (China, Singapore dan Jerman).

Awalnya saya merasa canggung untuk memulai obrolan dengan teman-teman yang berasal dari luar Indonesia. Tapi, semua perasaan tegang saya pendam dalam dalam dan memberanikan diri menyapa untuk sekedar menawarkan biskuit dan teh hangat.

Tak diduga, mereka menyambut dengan hangat. Saya coba jelaskan kalau kemampuan saya berbahasa Inggris masih kurang bagus. Dan mereka tak merasa keberatan asalkan kita bisa saling mengerti satu dengan yang lainnya.

Malam tiba, langit terlihat bersih dan tak lama bintang bertaburan. Ya!! Milkyway!!! Indah sekali! Sayang kamera saya tak memadai untuk mengabadikan keindahan langit Rinjani malam itu.

Menuju Pelawangan Sembalun

Membuka pagi dengan udara sejuk dan pemandangan maha indah. Dan siap memulai perjalanan menuju Pelawangan Sembalun. Sebelumnya, Yadi (pemandu) memberikan sedikit gambaran menganai lintasan yang akan kita lalui. Kalau perjalanan kita akan lebih sulit dari sebelumnya. Baiklah saya menyiapkan mental dan energi yang saya miliki.





Dengkul saya terasa lemas dan gemetar. Jalanan terjal penuh bebatuan ada dihadapan saya dan tak tampak dimana ujungnya. Saya harus berjalan konsisten dan mengejar waktu agar tepat makan siang sudah sampai di danau. Perlahan tapi pasti, saya menapaki bebatuan itu. Butuh konsentrasi tinggi untuk melewati jalur ini. Sedikit saja lengah, saya bisa terpeleset dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pukul 12.00 WITA saya tiba di danau untuk sekedar meluruskan kaki dan makan siang. Ada yang unik, di danau banyak pendaki maupun warga yang memancing. Ternyata, di danau banyak terdapat Ikan Mas dan Mujair.





Segara Anak merupakan salah satu pesona unggulan dari Gunung Rinjani. Di bibir Danau Segara Anak, banyak spot untuk para pendaki yang ingin mendirikan tenda. Dari Danau Segara Anak, kita juga bisa melihat Gunung Barujari yang masih aktif dan baru meletus November 2015 silam.

Usai menyantap makan siang, saya ditawarkan untuk menyambangi Hot Spring yang lokasinya tak jauh dari danau. Cukup berjalan lima menit, saya sudah sampai di lokasi. Dalam perjalanan menuju Hot Spring, disarankan untuk tetap berahati-hati karena terdapat turunan yang cukup curam.





Perjalanan dilanjutkan menuju Pelawangan Senaru...

Tiba di Pelawangan Senaru sekiatar pukul 16.30 WITA, pas dengan prediksi pemandu saya. Sampai disana saya merebahkan badan dan bersantai dan setelahnya makan malam dilanjut istirahat sebelum tengah malam harus summit.

Menuju Dewi Anjani

Pukul 00.30 dini hari saya memulai perjalanan menuju Dewi Anjani. Masih mengantuk dan gelap. Tetapi, apabila memandang ke arah puncak, saya melihat banyak lampu kelap-kelip dari cahaya para pendaki yang melakukan summit.


Dari trek awal saya sudah merasa kesulitan. Bagaimana tidak, jalan penuh pasir dan bebatuan ini terasa licin dan menghambat langkah saya. Dua langkah saya naik, satu langkah kaki saya bergeser turun. Begitu seterusnya sampai pucak.



Ini kali pertama saya melakukan pendakian menuju puncak gunung dengan trek pasir dan batuan kecil. Saya sempat ingin menyerah, ditambah saya bertemu dengan seorang pendaki yang terserah hipotermia. Mental saya semakin jatuh, memandang ke puncak pun terasa masih sangat jauh.

Saat menoleh ke belakang, ada Lucky, tunangan saya yang mengiringi langkah saya dan memberikan petunjuk jalur mana yang harus saya pijak. "Jalan terus pelan-pelan, udah banyak orang yang kamu lewatin. Jangan kebanyakan diam, nanti kedinginan. Jangan liat ke arah puncak juga, nanti terasa lama" ujar nya

Langkah demi langkah saya pijak dengan yakin. Tak terasa pukul 05.00 WITA saya sudah berada di Dewi Anjani. Saya dan teman-teman rombongan menjadi tim ke dua yang berhasil menapaki Dewi Anjani hari itu. Perasaan haru dan bahagia sangat saya rasakan. Tak percaya seorang yang sering jatuh sakit seperti saya berada di Dewi Anjani dengan ketinggian 3.726 mdpl.





Tapi saya tak kuat bertahan lama di puncak. Badan saya bergetar karena kedinginan. Angin yang menghembus sangat kuat, saya kedinginan hebat. "Jangan dirasa-rasa dinginnya, sugesti anget, gerak terus jangan diam dan jangan tidur" ujar Lucky. Dipeluknya saya sekuat dan sehangat yang dia bisa, tapi saya tetap merasa dingin.

Akhirnya setelah matahari tebrit dengan sempurna dan kerumunan orang semakin banyak saya memutuskan untuk turun. Saya turun dengan rasa bahagia walaupun tak banyak pemandangan yang berhasil saya abadikan. Ini menjadi perjalanan yang luar biasa untuk saya!!


Rinjani tak pernah ingkar janji!!!


Terima Kasih
Salam Hangat,
Eka \m/

Kamis, 12 Mei 2016

Makan Enak Saat Mendaki

Perihal mendaki, teman-teman yang pernah melakukan pasti tahu dan paham bagaimana lelahnya melakukan kegiatan ini. Kegiatan yang banyak melibatkan kekuatan fisik (dan juga mental). Kegiatan yang banyak menguras energi (dan emosional).

Kebutuhan energi saat melakukan pendakian mencapai 6.000 kalori per hari. Ini mencapai dua sampai empat kali lipat dari kebutuhan kalori per hari kegiatan sehari-hari yang rata-rata 1.500 sampai 2.500 kalori.

Saat menjadi pendaki pemula, saya tak terlalu memerhatikan asupan apa yang akan saya konsumsi selama pendakian. Saya lebih menekankan pada latihan fisik. Memang, latihan fisik sangat dibutuhkan untuk melatih kekuatan.

Akhirnya, logistik yang saya bawa hanyalah berbentuk makanan siap saji. Karena saya hanya memikirkan hal praktis "yang penting makan terus kenyang".

Ternyata saya keliru, kekuatan yang didapat saat mendaki bukan hanya karena rutin latihan fisik. Melainkan, asupan yang kita konsumsi saat mendaki untuk kembali diolah tubuh menjadi energi.

Mau tahu, apa saja yang sebenarnya dibutuhkan tubuh saat mendaki?

Karbohidrat, sebagai sumber energi utama pada tubuh. Dalam pendakian, saya biasa mengkonsumsi nasi atau roti sebagai sumbet karbo yang bisa saya dapat.

Protein, berfungsi untuk memperbaiki otot, menjaga otak agar tetap sadar dan melancarakan peredaran darah dalam tubuh. Protein saat mendaki saya peroleh dari telur atau ikan.

Lemak, berfungsi sebagai cadangan sumber energi. Tetapi lemak lebih membutuhkan banyak waktu dalam pengolahannya menjadi energi. Lemak biasa saya dapatkan dari bakso, sosis dan abon yang bisa saya konsumsi saat mendaki.

Serat, selain bagus untuk fungsi pencernaan, serat juga berfungsi sebagai makanan penunda lapar. Saya biasa membawa agar-agar untuk dikonsumsi.

Itu adalah beberapa nutrisi yang kiranya mulai saya perhatikan saat melakukan pendakian. Nutrisi yang buruk atau pas-pasan menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Otot juga sulit melalukan recovery dan membatasi kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel sel yang rusak.

Selain itu, air minum juga penting untuk tetap memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh kita.

Berikut hidangan yang saya konsumsi dan sempat saya abadikan saat melakukan pendakian:

Telur Mata Sapi

 Kopi sebagai pelepas penat

 Sandwich sebagai sumber karbohidrat

 Sup

Berbicara mengenai makanan, semua pasti punya selera masing-masing. Silahkan di mix and match sesuai dengan selera teman-teman semua. Terima Kasih, semoga bermanfaat. 

Foto diambil oleh Yoga Hastyadi Widiartanto menggunakan kamera Fujifilm XM1

Jumat, 12 Februari 2016

Pulau Para Dewa (Part III)

Ya ya ya... semoga cerita ini belum basi. Kerjaan yang bertumpuk dan tak ada habisnya, membuat waktu saya untuk menulis sedikit terkikis. Eyaaa curhat....

Ini hari ketiga kami berada di Bali, itu artinya liburan telah usai. Hari ini tepat Idul Adha dan suasana berbeda begitu terasa di Bali. Merasakan menjadi kaum minoritas namun tetap dihargai.

Kami sholat di masjid yang terletak di Pecatu Resort (konon ini daerah kekuasaan keluarga cendana). Disana berdiri sebuah bagunan mesjid yang begitu kokoh dan menjadi ikonik di Pecatu.Dengan khidmat kami bisa menjalankan sholat tanpa ada gangguan yang berarti.

Usai sholat, sejenak singgah di Pantai Dreamland. Suasana masih pagi, jadi masih sepi dari pengunjung, serasa pantai pribadi. Tertawa, bercanda dan sedikit berlari-lari bermain air.

Tak terlalu lama bermain di Dreamland, kami memutuskan pulang sejenak ke persinggahan untuk sarapan dan melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Sedikit berkemas menyiapkan perbekalan selama perjalanan. Selanjutnya, kami singgah di warung bubur pinggir jalan daerah Jimbaran, tepatnya sederet dengan Ace Hardware. Tata (adik) bilang ini bubur yang cukup hits dikalangan mahasiswa yang berasal dari Pulau Jawa. Tanpa ragu, kami menyambangi warung bubur ini.

Hmmm.. lumayan rasanya dengan harga 10 ribu rupiah dan porsi suwir ayam yang cukup memenuhi mangkuk.Tempatnya bersih dan bersertifikat halal. Alhamdulillah.... Mari lanjut perjalanan.


Ga ada foto bubur, adanya foto muka kenyang

Perjalanan dilanjutkan menuju Pasar Sukowati. Karena hari ini memang kami agendakan untuk belanja oleh-oleh. Dalam menuju Sukowati, kami mencoba tol di atas laut. hihi maaf norak..

Biaya masuk tol untuk kendaraan roda dua adalah 4000 rupiah. sementara untuk kendaraan roda emapat, sebesar 10.000 rupiah. Cukup mahal karena jarak tol yang pendek, tetapi sebagai pengalaman baru, kami tak keberatan denga tarif tol yang di tentukan. Mengingat dalam mebuat tol tersebut cukup menguras anggaran.


Tol di atas laut

Maaf tak sempat foto di Sukowati maupun di pabrik pembuatan pie susu. Kami sibuk berbelanja dan terlalu ribet dengan barang belanjaan hasil kami menjelajah.

FYI, di Pasar Seni Sukowati masih banyak pedagang yang berasal dari Pulau Jawa. Jadi, jangan ragu kalau kalian punya skill berbahasa Jawa. Karena pakaian yang biasa dijajakan dengan harga 80.000 rupiah, di berika ke saya dengan harga 35.000 rupiah tanpa saya menawar. Sungguh!!!

Rehat sejenak untuk makan siang dan menaruh belanjaan di tempat singgah. Kami melanjutkan menuju Pantai Balangan untuk menikmati sunset dan sebagai penutup destinasi sebelum liburan kami berakhir. Lagi-lagi saya dibuat terpikat oleh Bali, karena tempat wisata yang bersih terawat dan tak dipungut (kecuali parkir 2.000).



Sejujurnya, ini agak setengah hati menulisnya. Tapi, berhubung saya masih berhutang dan ini sudah berganti tahun, saya harus menyelesaikan tulisan ini. 


Terima Kasih,
Salam hangat,


Eka \m/

Kamis, 11 Februari 2016

Tentang yang Dirasa "Frau"



Konser bertajuk "Tentang Rasa" yang digelar 20 Januari, 2016 di Gedung Kesenian Jakarta, ini mencoba menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati musik. Menghadirkan kesan lintas indera yang melibatkan penonton untuk aktif merangkai impresi rasanya sendiri, yang berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk.


Dalam konsernya, Leilani Hermiasih atau yang dikenal dengan Frau juga membagikan secarik kertas dan sebatang pensil sebagai media komunikasi dengan penonton. Penonton diminta untuk mencurahkan tentang apa yang dirasa selama monser berlangsung. Leni dan Oscar (piano) bak pasangan sejoli yang memiliki ikatan batin mengalunkan musik dengan begitu indanya. Lebih kurang enam belas lagu yang dibawakan yang berasal dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa "bocoran" materi lagu baru.



Begitu terbawa arus lantunan musik yang dibawakan Frau, seakan dibawa masuk ke dalam berbagai dimensi. Tak hanya dimonopoli oleh telinga dan mata. Namun, perasaan yang tanpa sadar terhanyut dalam buain.


Salam hangat dari Negeri Berdebu,
Eka \m/

Rabu, 30 Desember 2015

Terus, dan Teruslah Menulis

Sejak kapan suka menulis?

Apa yang menarik dari menulis?

Kenapa saya harus menulis?

Saya mulai menulis sejak belum mengenal bangku sekolah. Masih pekat dalam ingatan, saya kerap meniru gaya tulisan Kakek dan Ayah saya. Karena gaya tulisan mereka unik, seperti kode yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Maklum Ayah saya memang bekerja dibidang medis yang sering menuliskan resep untuk menebus obat. Sementara Kakek saya sangat mahir menulis dengan huruf stenografi.Saya mulai mencoret-coret kertas kosong dengan imajinasi kala itu "tulisan ku sama kan dengan Kakek dan Ayah".

"Menulis itu bisa menuangkan imajinasi, mengisi waktu, mencurahkan isi hati", Silvita Agmasari.


Saya masih tetap menulis walaupun saya tahu tulisannya tak terlalu menarik untuk dibaca khalayak luas. Tetapi saya tak pernah pupus harapan untuk terus menulis. Tak ada alasan kuat untuk berhenti menulis, karena menulis adalah bagian dari hidup saya.


"Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian", Pramoedya Ananta Toer.

"Nulis itu raison d'etre. You wouldn't feel like being live without writing, wether it's a diary, short story, two line poems or reportage", Yoga Hastyadi Widiartanto.

"Nulis biar tetep eksis", Wahyu Adityo Prodjo.

Setidaknya saya memiliki "sedikit karya" untuk keturunan saya nanti. Ada bukti secara real dan bukan hanya sekedar cerita belaka. Bisa bernostalgia ketika ingin mengingat kenangan terdahulu dengan membuka tulisan-tulisan lama. Minimal tulisan itu berguna untuk diri saya sendiri.

Terima Kasih,

Salam Hangat,
Eka, Negeri Berdebu.

Senin, 28 Desember 2015

Pecandu Buku Mejelajahi Ruang dan Waktu


Bandung, lagi-lagi menjadi tempat "merdeka" bagi ide-ide anak muda yang berpikir "gila" dan penuh dobrakan. Siapa yang masih meragukan kota dengan sejuta kreativitas ini? Bahkan Unesco sudah menetapkan Bandung sebagai salah satu kota kreatif di dunia.

Menelisik tentang kreativitas apa saja yang terlahir dari kota ini, Pecandu Buku adalah salah satunya. Sebagai komunitas yang terdiri dari muda-mudi yang memiliki minat membaca buku dan ingin menularkannya pada kalangan luas.

Berawal dari jumlah pengikut di instagram hanya berjumlah puluhan, kini dalam kurun waktu kurang dari satu tahun Pecandu Buku berhasil menghimpun hampir 10.000 pengikut. Suatu prestasi yang pantas diacungi jempol. Bagaimana tidak, jumlah pengikut dapat dikatakan sebagai barometer eksistensi suatu komunitas.






Jika para pecandu ingin mengunjungi markas Pecandu Buku, markas (taman baca) terletak di Jalan Pasirjaya IV No. 1 Buah Batu, Bandung. Tempat yang masih sederhana, namun keberadaanya dapat menjadi elemen penting untuk generasi pelurus. Memiliki koleksi mulai dari fiksi dan nonfiksi, serta buku-buku karya dari penulis-penulis yang cukup familiar.

Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku adalah jendela dunia. Begitulah kiranya bunyi pepatah. Dengan membaca buku, kita bisa menelisik lebih dalam bagaimana dunia ini dengan realita dan drama kehidupannya. Menjelajahi ruang dan waktu yang disokong dengan imajinasi tanpa batas.

Koleksi buku yang ada di markas (taman baca) Pecandu Buku mungkin belum terlalu banyak. Namun tak menutup kemungkinan jika khalayak luas ingin memberikan sumbangsihnya berupa buku-buku yang bermanfaat, Pecandu Buku membuka tangan dan menerima dengan hangat.





Dalam waktu dekat, komunitas ini akan mengadakan peluncuran resmi taman baca dengan tema Pecandu Buku Bersila. Acara ini tidak dipungut biaya, namun ketersediaan kuota memamg dibatasai. Jika berminat, teman-teman bisa menghubungi salah satu kontak penanggungjawab yang tertera pada poster.

Semoga kehadiran Komunitas Pecandu Buku dapat menjadi influence dan lifestyle untuk banyak kalangan.



Terima Kasih,

Salam hangat dari Negeri Berdebu,
Eka \m/

Kamis, 03 Desember 2015

Pulau Para Dewa (Part II)

Adalah hari kedua singgah di Pulau Para Dewa ini. Pukul 02.00 WITA kami sudah bergegas bangun san bersiap menuju destinasi selanjutnya. Berat gravitasi tempat tidur dan lengket rasanya kelopak mata ini.

A: Neng, bangun atuh ih kamu mah meuni susah dibangunin
E: Lima menit please... ngantuk banget gak kuat.
A: Yeeee... lawan atuh.. ayo ah!!

Dengan langkah yang terseok menuju kamar mandi. Berusaha sekuat tenaga mengalahkan rasa kantuk yang terlalu. Tak lama selesai semua persiapan, tepat pukul 03.10 kami berangkat.

Udara dingin menusuk raga ini tanpa ampun, dan lampu jalanan yang berkelap kelip mengiringi perjalan (yang sangat) pagi ini. Menempuh perjalanan dua jam dari Umalas menuju Utara Bali. Ya! Desa adat Kintamani. Daerah dataran tinggi di Pulau Bali yang akan kami jadikan tujuan selanjutnya.

Berbekal aplikasi navigasi kami mengandalkan segalanya. Tak sulit mencari jalan disini, kalau masih ada garis putih di sisi jalan berarti kita masih berada pada jalur yang benar. Tetapi, hilangnya garis putih pada sisi jalan menjadi pertanda kalau kita sudah memasuki kawasan pedesaan yang mengindikasikan kita sudah keluar dari jalur sesungguhnya.

E: A, masih jauh deh kayanya. Istirahat sebentar boleh? Aku kedinginan banget.
A: Iya kita cari pom bensin ya sekalian saya mau buang air kecil.
E: Aku salah bawa jaket nih. Nusuk banget dinginnya dan ngantuk
A: Iyah sama saya juga nih.

Sejenak meregangkan otot yang sudah sejak tadi kaku karena terpapar udara yang (sangat) dingin.

Kami lihat pada aplikasi, jarak yang harus kami temput masih 10 Km lagi. Sebenarnya tak terlalu jauh karena kami menggunakan skuter matik. Namun, suhu kala itu yang cukup menjadikan permasalahan untuk kami. Skuter dilaju dengan kecepatan sedang, ya sekitar 50-70 Km/jam.

Akhirnya kami sampai pada tujuan, Batur View!! Yeaayyyy....
Kami lihat banyak kelap-kelip headlamp para pendaki yang akan summit menuju kaldera Gunung Batur. For your info, Kaldera Batur sudah diakui oleh dunia karena keindahannya. Namun karena kami tak membawa perlangkapan untuk mendaki, kami hanya menikmati suasana pada point view. Tak kalah indah! kami melihan banyak sekali keajaiban alam raya Indonesia di Pulau Dewa ini.


Pukul 06.30 WITA kami bergegas turun menuju destinasi selanjutnya. Sekali lagi kami mengandalkan aplikasi navigasi yang ada pada gawai. Menuju Pura Ulun Danu Bratan. Pura yang sangat legendaris karena terdapat di pecahan uang Rp. 50.000,- .

Sebenarnya wisatawan domestik tak dikenakan biaya apapun kecuali parkir. Namun, kesalahan kami yang membuntuti rombongan wisatawan mancanegara dan ikut dikenakan biaya tiket Rp. 7.500/orang. Tapi kami tak menyesali itu, anggap saja kami membantu untuk menjaga keeksotisan tempat ini.










Suasananya sangat damai ditemani dengan sejuknya udara kala itu. Puas kami mengelilingi Pura, kami kembali menuju Hotel.




Sangat beruntung, hotel yang ditempati memiliki view yang bagus. Ketikan membuka balkon, pemandangan sawah yang begitu hijau dan menyegarkan mata. Cukup mengeluarkan Rp. 240.000,- Fave Hotel Umalas sudah memberikan fasilitas yang oke menurut saya. Sarapan, kolam renang, billyard dan fasitilas kamar juga yang oke.


Saya memutuskan untuk istirahat sejenak, makan dan tidur siang. Mengingat perjalanan kali ini cukup melelahkan.


Sore hari pukul 15.00 saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Kuta Selatan. Tujuan setiap sore adalah untuk menikmati senja di pulau yang menjanjikan beribu keindahan senja. Kali ini saya memilih Dreamland Beach di kawasan Pecatu. Ini yang saya suka dari Bali, tempat wisata terjaga namun tetap dengan harga yang ekonomis. Cukup bayar uang parkir sebesar Rp. 5.000'- saja saya sudah bisa memasuki kawasan ini.






Berakhirlah perjalanan hari kedua ini. Saya pulang untuk beristirahat di tempat adik saya dan parter kembali menuju penginapan.




Terima Kasih
Salam Hangat
Eka \m/